BAHAN
KHOTBAH
MINGGU
XIX SETELAH TRINITATIS
MINGGU,
11 OKTOBER 2026
HOSEA
6: 1 – 6
ALLAH MENYUKAI KASIH SETIA
Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.
Patujolo
Di dunia ini
manusia sering diperhadapkan dengan dua pilihan antara hal yang disukai dan hal
yang tidak disukai. Sesuatu yang kita sukai merupakan sesuatu yang sesuai
dengan harapan dan yang dapat mendatangkan kepuasan bagi kita; begitu juga
sebaliknya sesuatu yang tidak sukai merupakan sesuatu yang tidak kita harapkan
dan yang menyebabkan kekecewaan atau ketidak puasan bagi kita. Dari dua pilihan
tersebut, tentu kita memilih hal lebih kita sukai dibandingkan dengan hal yang
tidak kita sukai.
Dalam
teks khotbah evangelium ini, nabi Hosea menyatakan dalam pemberitaanNya
mengenai hal – hal yang disukai oleh Allah untuk diwujudnyatakan oleh umat-Nya,
Israel. Sebagai umat pilihan, umat Israel memiliki tugas dan kewajiban untuk
mewujudnyatakan hal – hal apa yang TUHAN kehendaki dari mereka. Agar kita dapat
lebih memahami pemberitaan ini, kita akan memasuki penjelasan nas.
Penjelasan
Nas
Hosea anak Beeri
adalah
seorang nabi yang melakukan tugas kenabiannya di Israel Utara pada
masa kerajaan Yerobeam bin Yoas atau yang lebih dikenal dengan Yerobeam II
(sekitar 793–753 SM). Dari tahun tersebut kita dapat mengerti bahwa Hosea
memiliki konteks yang sama dengan nabi Amos. Pada masa pemerintahan Yerombeam
II, kerajaan Israel jatuh kepada penyembahan berhala seperti yang telah
dilakukan ketika Yerobeam I memerintah Israel Utara. Selain penyembahan
berhala, pada masa pemerintahan Yerobeam II terjadi banyak perbuatan kekejian,
penindasan, ketidakadilan dan berbagai perbuata jahat lainnya. Orang miskin
menjadi bahan injakan dan korban kepuasan birahi orang kaya, keadilan
ditentukan dengan banyaknya uang, jabatan dan kenalan, budak tidak dipandang
sebagai manusia memiliki hak hidup untuk merdeka melainkan dipandang sebagai
tawanan yang mana hak hidupnya hanyalah untuk kepentingan tuannya.
Hosea
dalam tugas panggilannya sebagai nabi disuruh untuk menikah dengan seorang
perempuan sundal (pelacur). Pernikahan ini sebagai gambaran bangsa Israel Utara
yang tidak setia dalam melakukan ibadah kepada TUHAN, mereka melakukan “pelacuran”
dengan melakukan penyembahan kepada berhala. Melalui keluarga Hosea ini, Allah
menyatakan hal – hal yang akan Ia perbuat kepada bangsa Israel Utara, termasuk
mengenai ibadah yang sering mereka lakukan. Ucapan mereka dalam ibadahnya
adalah TUHAN, akan tetapi hati dan pikiran mereka jauh dari TUHAN.
Dalam
perikop ini, nabi Hosea memiliki kerinduan agar umat Israel bertobat dan makin
mengenal Allah yang kasih setia-Nya tidak berubah kepada umat-Nya. Hosea
menggambarkan Allah seperti fajar sebab Hosea hendak berbicara tentang kasih
setia Tuhan. Tuhan tidak pernah ingkar janji; Janji-Nya pasti digenapi. Ia
pasti akan datang dan menolong umat-Nya sama seperti fajar yang pasti datang
membawa terang dan mengusir kegelapan. Hosea menggambarkan Allah seperti hujan
yang mendahului datangnya musim semi. Air dari musim penghujan akan mengairi
bumi sehingga bumi menumbuhkan benih tanaman yang kemudian siap dipanen. Hasil
panen itu akan memenuhi lumbung-lumbung. Artinya, berkat dan kasih setia Allah
akan terus tersedia dari musim ke musim. Sungguh indah jika kita menyadari
kasih setia Tuhan, terlebih tatkala kita sedang merasa putus harapan atau musim
kehidupan kita terasa kering kerontang. Menyadari Tuhan yang setia akan sungguh
menjadi secercah cahaya yang menerangi jalan kita; bagaikan oase di tengah
gurun kering, yang memberi kita kesegaran dan kekuatan untuk terus melangkah di
dalam iman.
Memang
ada kalanya Allah mempersilahkan hal – hal yang menyakitkan atau bencana
terjadi atas umat-Nya karena pemberontakan mereka. Terjadi kekacau balauan
bahkan kehancuran dapat dipahami sebagai penghukuman Allah atas umatNya. Untuk
itulah, melalui Hosea, Allah mengkehendaki agar umat Israel Utara segera
mengenal dan menyesali semua perbuatan dosa dan jahat mereka. Mereka harus
mengenal kebaikan serta kemurahan hati Allah. Tidak ada pertobatan yang sia –
sia jika pertobatan itu dilakukan dengan sepenuhnya dan tidak main – main.
Pertobatan
berasal dari sepenuh hati akan merubah cara pandang kita terhadap pengenalan
TUHAN, Allah kita. Tidak ada yang lebih indah dan lebih disukai dibandingkan
kasih setia TUHAN. TUHAN telah menyatakan kasih setia-Nya kepada kita melalui
pemulihan yang akan Ia perbuat; Ia sendiri akan menyembuhkan umat-Nya dari
keterpurukan yang terjadi. Kasih setia TUHAN datang seperti fajar yang akan
meleyapkan kegelapan malam. Pada ayat 4 TUHAN, Allah Israel memperhadapkan
kasih setia umat itu dengan kasih setia-Nya. Kasih setia umat itu ibarat
seperti embun yang hilang pagi – pagi benar. Kasih setia itu tidak menetap,
memiliki batas waktu dan dapat hilang. Namun, kasih setia TUHAN adalah kekal,
tetap.
Setiap
orang yang menerima dan mengalami kasih setia TUHAN, maka ia akan melanjutkan
kasih setia TUHAN kepada orang lain. Manusia merespon kasih setia Allah dengan
dua hal yaitu: beribadah dan berbuat kasih setia kepada orang lain. Ibadah
tidak cukup menyatakan syukur telah beroleh kasih setia, namun harus berlanjut
dengan berbuat kasih setia seperti: mengampuni, membantu orang lemah,
menyatakan pembebasan dan kemerdekaan bagi orang yang tertindas, menyatakan
keadilan yang merata dan adil, menyatakan tahun rahmat TUHAN telah datang.
Pada
ay. 6 dikatakan TUHAN lebih menyukai perbuatan kasih setia dari pada korban
sembelihan. Ritus ibadah yang hanya dilaksanakan secara formalitas. Ibadah
mereka hanya sebagai topeng menutup keberdosaan mereka dan hanya sebagai
kegiatan formalitas tanpa mempunyai dampak baik bagi orang lain. Ibadah hanya
dipahami sebagai usaha mereka untuk menutupi dosa mereka dan diartikan sebagai
pemakluman atas segala dosa dan kejahatan yang mereka lakukan. TUHAN, Allah
Israel mengkritik dan menegor ritus ibadah mereka. Ibadah itu tidaklah pemuas
perasaan umat untuk mengenal TUHAN; tidak hanya sebagai perjumpaan mereka
dengan TUHAN melainkan bagaimana berbuat kasih setia kepada semua orang sebagai
respon umat telah bertemu dengan TUHAN.
Refleksi
Perikop
evangelium hari ini merupakan penekankan bahwa meskipun Israel telah
memberontak dan seharusnya mendapat murka Allah, ada panggilan untuk bertobat,
menyesali segala pemberontakannya dan kembali kepada TUHAN yang memiliki kuasa
untuk menyembuhkan, bukan sekadar mengakhiri penderitaan dengan kematian. Pesan
utamanya adalah bahwa Tuhan lebih menginginkan kesetiaan dan pengetahuan akan
Tuhan daripada korban sembelihan yang hanya bersifat lahiriah, yang berarti
ketaatan dan hubungan yang tulus lebih penting daripada upacara keagamaan tanpa
makna.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar