BAHAN KHOTBAH EPISTEL
MINGGU XI SETELAH TRINITATIS
MINGGU, 16 AGUSTUS 2026
GALATIA 3: 26 – 29
TAATI HUKUM DAN TEGAKKAN
KEADILAN
oleh: Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.
Pendahuluan
Merdeka!!! Sekali merdeka
tetap merdeka! Sebagai bangsa yang merdeka haruslah menyatakan perbuatan dan
tindakan sebagaimana yang diharapkan oleh Tuhan terhadap umat-Nya setelah kita
telah dimerdekakan kita dari kuasa dosa dan maut di dalam Yesus Kristus, Tuhan
dan Juruselamat kita. Iblis tidak akan berhenti merayu dan membujuk kita agar
kita melanggar aturan dan perintah Allah sehingga kita pun kembali menjadi
dikuasai dan diperbudak olehnya di dalam dosa. Dosa akan mengarahkan kita
kepada kebinasaan dan maut, rusaknya hubungan kita dengan sesama dan kepada
TUHAN. Dosa akan menutup semua kasih dan pengampunan sehingga yang terjadi
adalah perselisihan, dendam, penindasan, ketidakadilan dan hidup semena – mena
kepada sesama manusia.
Sungguh besar kasih Allah kepada
manusia dan dunia; IA tidak membiarkan manusia itu selalu dikuasai iblis dan
kuasa dosa. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus di mana di
dalam Yesus Kristus Allah menyatakan kasih, hukum dan keadilan-Nya. Manusia
tidak akan mampu dengan semua keberadaannya dan keberadaan yang ada di dunia
ini untuk membebaskan dia dari kuasa dosa dan melawan iblis. Oleh karena itu,
di dalam dan oleh Yesus Kristus, mampu memerdekakan kita dari kuasa dosa dan
kita mampu melawan iblis. Hanya di dalam dan oleh Yesus Kristus kita yang
sebelumnya dikuasai oleh iblis untuk bebuat dosa, kini kita dipimpin oleh Yesus
Kristus untuk berbuat semua firman dan kehendak-Nya. Di dalam dan oleh Yesus
Kristuslah kita akan disebut anak – anak Allah, seperti yang diungkapkan oleh
Paulus dalam nas khotbah ini.
Penjelasan
Nas
Kitab
Galatia merupakan surat yang dituliskan oleh rasul Paulus sekitar tahun 53 – 56
M. ketika ia berada di kota Korintus dan surat ini ditujukan kepada jemaat yang
di kota Galatia. Kota Galatia berada di Asia Kecil, yang sekarang dikenal
sebagai Turki. Paulus mendengar bahwa ada pergumulan atau masalah yang dihadapi
oleh jemat Kristen di kota itu yaitu munculnya kelompok pengajar sesat yang
berasal dari kelompok Yahudi yang membenci Paulus. Kelompok tersebut
menyebarkan berita mengenai kerasulan Paulus yang menyebabkan jemaat meragukan
kerasulan Paulus. Pada awal suratnya ini, Paulus menyebutkan dirinya adalah
benar – benar rasul Yesus Kristus walaupun ia tidak termasuk dari 12 murid yang
dipilih oleh Yesus. Kerasulan Paulus tidak ia peroleh dari Yesus Kristus ketika
IA masih di dunia ini; melainkan Paulus menerima kerasulan itu dari Yesus
Kristus ketika Yesus Kristus telah naik ke Sorga dan turunnya Roh Kudus. Yesus
Kristus sendiri yang menangkap dan menetapkan Paulus menjadi rasulnya, ketika
ia akan berangkat ke Damsyik dalam rangka penindasan kepada orang Kristen.
Kerasulan Paulus lebih banyak dilakukan di luar orang Yahudi, itu sebabnya nama
yang sering dipakai adalah Paulus. Saulus merupakan nama Paulus yang ia pakai
ketika ia masuk dalam komunitas Yahudi dan nama Paulus dipakai ketika ia berada
di luar komunitas Yahudi. Dalam surat Galatia ini, Paulus mengajarkan dan
menasehati jemaat Kristen yang ada di kota Galatia agar mereka berperilaku
sebagaimana mereka telah dimerdekakan dari kuasa dosa melalui pembenaran yang
diperbuat oleh Allah. Kita hanya dapat mengenal pembenaran dan anugerah Allah
hanya oleh iman dan bukan oleh aturan – aturan manusia.
Seperti
yang telah diketahui bahwa dalam komunias Yahudi sangat banyak aturan atau
hukum yang diperbuat yang menyebabkan mereka menjadi eksklusif atau tertutup
bagi orang – orang di luar komunitasnya. Komunitas Yahudi menganggap bahwa
hanya merekalah yang paling benar dan sangat layak diselamatkan karena mereka
menaati aturan, hukum dan tatanan yang ada pada mereka; komunitas di luar
Yahudi merupakan komunitas yang tidak layak beroleh keselamatan. Komunitas di
luar Yahudi bisa saja beroleh keselamatan seperti yang dimiliki oleh Yahudi
akan tetapi mereka harus turut taat kepada tradisi, aturan – peraturan serta
hukum Yahudi tanpa itu keselamatan tidak akan terjadi pada mereka. Bagi
kelompok Yahudi, walaupun orang – orang di luar Yahudi telah menjadi Kristen
namun apabila mereka tidak mengikuti tradisi, aturan – peraturan dan hukum
Yahudi mereka juga tidak beroleh keselamatan. Keselamatan yang dapat diperoleh
hanya ketika mereka melalukan seluruh tradisi, aturan dan hukum yang berlaku
dalam komunitas Yahudi.
Pemahaman
itu tentunya membuat keraguan bagi jemaat Kristen yang berasal dari luar
komunitas Yahudi mengenai iman mereka. Apakah mereka akan beroleh keselamatan
oleh karena iman mereka kepada Yesus? Atau apakah keselamatan itu diperoleh
ketika mereka melakukan dan menaati tradisi, aturan – peraturan serta hukum
yang berlaku dalam komunitas Yahudi. Oleh karena itulah Paulus melalui suratnya
ini menyampaikan kepada jemaat Kristen yang ada di kota Galatia bahwa mereka
juga adalah anak – anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus (ay. 1).
Status anak Allah disematkan kepada jemaat Galatia yang menyatakan bangsa non
Yahudi bukan karena kepatuhan dan keikutsertaan mereka melakukan tradisi, atau
aturan dan hukum Yahudi tetapi karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Yesus
Kristus adalah penggenapan dan pemenuhan Hukum Taurat (tӧrāh), hukum (mišpāṭ), dan keadilan (ṣedeq) sebagai penyataan
kemuliaan TUHAN dengan
tindakan-Nya.
Status
ke-anak-an Allah dinyatakan ketika kita dibaptis di dalam Kristus (ay. 2). Ayat
2 ini meningatkan kita mengenai ajaran Paulus kepada jemaat Kristen di kota
Roma: “...tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam
Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah
dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama
seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa,
demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah
menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi
satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa
manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang
kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang
telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus,
kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa
Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak
berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu
kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.
Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa,
tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Roma 6: 3 – 11).
Hanya
oleh dalam imanlah kita dapat mengenal bahwa hanya di dalam Yesus Kristuslah
kita beroleh keselamatan. Kita telah dipersatukan dan dipersekutukan bukan
karena dalam satu tradisi atau hukum tetapi karena kita hidup di dalam Yesus
Kristus dan mengenakan Kristus. Keselamatan yang Yesus Kristus telah nyatakan
tidak dapat dibatasi oleh satu suku, tradisi, aturan, hukum yang ada tetapi
keselamatan yang Yesus Kristus telah nyatakan adalah kesempurnaan dari semua
suku, tradisi, aturan atau hukum. Di dalamnya tidak ada lagi orang Yahudi atau
Yunani, tidak ada lagi hamba atau orang merdeka, tidak ada lagi laki – laki
atau perempuan karena kita semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (ay. 28).
Allah yang kita sembah adalah Allah semua suku, semua bahasa, semua tradisi.
Ungkapan ayat 28 ini sama dengan pengajaran Paulus ketika ia menuliskan
suratnya kepada jemaat di kota Roma: “Atau adakah Allah hanya Allah orang
Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia
juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan
membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak
bersunat juga karena iman. Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat
karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” (Roma 3: 29 –
31).
Refleksi
Teologis
Nas khotbah epistel
ini mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan dari perbudakan dosa telah
dinyatakan Allah secara sempurna di dalam dan oleh Yesus Kristus. Hanya di
dalam dan oleh Yesus Kristuslah keselamatan dan kemerdekaan itu nyata dan
terjadi. Kemerdekaan yang telah kita peroleh tidaklah dipergunakan untuk
memperbuk atau mendiskreditkan sesama manusia yang memiliki perbedaan dengan
kita seperti suku, bahasa, tradisi, agama dan perbedaan lainnya. Kemerdekaan
yang telah Yesus Kristus perbuat di dalam dan oleh-Nya adalah kemerdekaan yang
merajut persaudaraan yang rukun. Perbedaan adalah hal alamiah karena Allah
sendiripun menciptakan segalanya berbeda namun semuanya baik.
Imanlah yang mampu
menguatkan dan mengajarkan kita mengenai keselamatan atau kemerdekaan yang
telah Allah lakukan. Iman di dalam Yesus Kristus. Di dalam Yesus ada
persaudaraan yang rukun, hidup berdampingan dan harmonis. Perbedaan bukan lagi
sebagai pemecah atau menjadi masalah tetapi menjadi kekayaan. Hanya di dalam
Yesus Kristuslah kita akan mampu menghormati, mengasihi bahkan berbuat yang
terbaik untuk sesama kita walaupun di tengah perbedaan yang ada. Kita semua
adalah anak Allah yang telah dipersekutukan di dalam baptisan di dalam nama
Allah Bapa dan anak-Nya Tuhan Yesus Kristus dan Roh kudus. Kita adalah milik
Yesus Kristus. Apabila kita telah menjadi miliki Yesus maka kita adalah
keturunan Abraham yang behak menerima janji Allah. Itu berarti kita juga akan
turut mewarisi janji Allah yang telah Allah nyatakan kepada Abraham. Amin.

