BAHAN
KHOTBAH EPISTEL
MINGGU
XIX SETELAH TRINITATIS
MINGGU,
11 OKTOBER 2026
YUDAS
1: 17 – 23
Sebuah
lirik lagu dikatakan: “menyenangkanMu, senangkanMu, hanya itu kerinduanku, menyenangkanMu,
senangkan hatiMu hanyaitu kerinduanku” lirik tersebut mengandung arti bahwa
sebagai umat percaya, kita ingin menyenangkan hati TUHAN. Akan tetapi bagaimana
cara kita menyangkan hati TUHAN? Ibarat seorang anak yang ingin menyenangkan
hati orangtuanya, bagaimana cara si anak menyenangkan hati orangtuanya? Tentu
si anak terlebih dahulu mengetahui dan mengenal apa yang menjadi kesukaan dan
kedambaan dari orangtuanya. Demikian halnya ketika kita ingin menyenangkan hati
TUHAN, kita harus terlebih dahulu mengenal TUHAN dan hidup dalam kehendak-Nya.
Melakukan perintah-Nya serta melakukan apa yang TUHAN inginkan dari kita.
melalui para hamba-Nya, Allah telah memberitahkan apa yang TUHAN inginkan dari
kita yaitu mengasihi Allah dan mengasihi semua orang dengan melakukan kebenaran
dan keadilan kepada semua orang.
Penjelasan
Surat
Yudas merupakan surat yang dituliskan oleh rasul Yudas (bukan Yudas Iskhariot).
Surat ini merupakan surat nasehat atau pastoral dari seorang rasul kepada umat
Kristen yang mengalami tekanan dari kerjaan Romawi dan begitu juga munculnya
para pengajar sesat yang meragukan ke-Allah-an dan ke-manusia-an Yesus Kristus.
Ada orang-orang tertentu yang telah menyusup ke dalam jemaat dan
menyalahgunakan kasih karunia Allah demi kesenangan sendiri (1:4). Dalam
istilah theologi, ajaran mereka disebut “antinomianisme” (anti hukum). Kelompok
antinomian memahami kebebasan Kristiani secara keliru, dan memakainya demi
kenikmatan duniawi: uang, makanan, dan pelampiasan nafsu (1:12, 16, 19). Tidak
di bawah tuntutan Taurat diidentikkan dengan izin untuk berbuat dosa semaunya.
Di tengah
situasi seperti ini, sangat penting bagi penerima surat untuk berpegang teguh
pada iman yang selama ini telah diberitakan lintas generasi dari Tuhan Yesus ke
para rasul sampai orang-orang Kristen generasi ke-2 atau ke-3 (1:3). Apa yang
sedang terjadi tidak seharusnya mengagetkan mereka. Sejak dahulu sudah ada para
penyesat yang didorong oleh kepuasan hawa nafsu semata-mata (1:11). Selain itu,
sesuai dengan yang sudah dinubuatkan, di akhir zaman memang akan tampil para
penyesat dan pengejek kebenaran (1:17-18). Jemaat tidak usah kaget. Mereka
hanya perlu menjaga kemurnian ajaran dan kekudusan. Ada orang-orang tertentu
yang telah menyusup ke dalam jemaat dan menyalahgunakan kasih karunia Allah
demi kesenangan sendiri (1:4). Dalam istilah theologi, ajaran mereka disebut
“antinomianisme” (anti hukum). Kelompok antinomian memahami kebebasan Kristiani
secara keliru, dan memakainya demi kenikmatan duniawi: uang, makanan, dan
pelampiasan nafsu (1:12, 16, 19). Tidak di bawah tuntutan Taurat diidentikkan
dengan izin untuk berbuat dosa semaunya.
Di tengah
situasi seperti ini, sangat penting bagi penerima surat untuk berpegang teguh
pada iman yang selama ini telah diberitakan lintas generasi dari Tuhan Yesus ke
para rasul sampai orang-orang Kristen generasi ke-2 atau ke-3 (1:3). Apa yang
sedang terjadi tidak seharusnya mengagetkan mereka. Sejak dahulu sudah ada para
penyesat yang didorong oleh kepuasan hawa nafsu semata-mata (1:11). Selain itu,
sesuai dengan yang sudah dinubuatkan, di akhir zaman memang akan tampil para
penyesat dan pengejek kebenaran (1:17-18). Jemaat tidak usah kaget. Mereka
hanya perlu menjaga kemurnian ajaran dan kekudusan. Walaupun demikian, Yudas
tidak hanya berusaha menguatkan jemaat yang masih setia pada iman yang benar.
Dia juga mendorong mereka untuk menunjukkan kasih kepada orang lain yang
mungkin sudah tergiur dengan kesesatan yang ada. Orang-orang ini membutuhkan
uluran tangan yang tulus. Yudas ingin mengajarkan bahwa kasih yang benar selalu
mencari orang yang tidak benar.
apa yang harus
kita lakukan terhadap mereka yang tersesat? Wujud kasih seperti apa yang kita
patut tunjukkan? Yang pertama, berbelas-kasihan (eleaō, ayat 22, 23b).
Kehidupan Kristiani sudah dipisahkan dari belas kasihan. Dalam salamnya, Yudas
tidak lupa mengharapkan belas-kasihan untuk penerima surat (eleos, 1:2; LAI:TB
“rahmat”). Pada waktu kedatangan Tuhan Yesus kelak, kita menantikan
belas-kasihan-Nya (eleos, 1:21; LAI:TB “rahmat”). Hanya oleh belas-kasihan-Nya
kita dapat menghadap Dia kelak dalam keyakinan dan keberanian. Sebagaimana
Allah sudah berbelas-kasihan kepada kita yang dahulu tersesat dalam dosa, demikian
pula kita sepatutnya memperlakukan orang lain demikian. Orang yang
berbelas-kasihan (eleēmōn) akan menerima belas-kasihan (Mat. 5:7). Bagaimana
kita menghakimi orang lain akan menentukan bagaimana kita nanti dihakimi.
Penghakiman yang tidak berbelas-kasihan akan menimpa orang yang tidak
berbelas-kasihan (Yak. 2:13).
Kedua,
menyelamatkan (ayat 23a). Kita dapat menyelamatkan orang lain yang tersesat
dengan cara merampas mereka dari api. Kata “merampas” (harpazō) bukan sekadar
tindakan asal-asalan. Filipus dilarikan oleh Roh Kudus di Asdod (Kis. 8:39).
Paulus pernah diambil secara paksa oleh pasukan Romawi tatkala terjadi
kerusuhan yang membahayakan nyawanya (Kis. 23:10). Paulus juga pernah diangkat
ke surga (2Kor. 12:2, 4). Pada waktu kedatangan Tuhan Yesus kedua kali,
orang-orang percaya yang masih hidup akan diangkat ke awan-awan (1Tes. 4:17).
Semua kata kerja yang berhuruf miring di atas menggunakan kata kerja harpazō.
Dengan kata lain, kata ini merujuk pada tindakan mengambil sesuatu dengan
disertai kekuatan atau paksaan. Ada upaya yang lebih keras yang harus
dilakukan. Jika tidak demikian, daya tarik kesesatan akan lebih kuat
menjerumuskan mereka ke dalam penghukuman.
Wujud kasih yang
terkahir adalah berbelas-kasihan tetapi disertai ketakutan (ayat 23b). Kita
perlu menunjukkan belas-kasihan kepada semua orang. Namun, khusus untuk mereka
yang memang sudah sedemikian terhisap dalam keberdosaan, kita juga harus
menambahkan sesuatu yang lain pada belas-kasihan. Tidak cukup hanya
berbelas-kasihan. Kita harus menyertainya dengan ketakutan. Ketakutan yang
dimaksud ini adalah kewaspadaan agar mereka waspada tidak terjatuh kepada dosa
atau ikut dalam ajaran para pengajar sesat.
Refleksi
Ketika kita melihat gunung, dari kejauhan gunung itu tampak
berwarna biru. Tetapi, setelah dekat, ternyata keadaannya tidak demikian. Ada
gerombolan pepohonan besar, ada permukaan tanah yang cokelat, dan
sebagainya. Seperti penampakan gunung, tidak sedikit orang yang mengaku
dirinya Kristen, hidupnya kelihatan rohani, tetapi sebenarnya ia tidak memiliki
iman. Bisa jadi ia kelihatan baik, tetapi ternyata menipu sesamanya. Ada juga
yang menduakan Tuhan dengan masih pergi ke dukun atau paranormal untuk meminta
petunjuk. Yudas mengingatkan seharusnya kita membangun diri sendiri di atas
dasar iman yang paling suci. Orang yang membangun rumah tidak hanya membuat
fondasi, namun menyelesaikannya sampai rumah berdiri. Kita pun tidak tinggal
dalam keadaan yang tetap sama seperti ketika baru bertobat, tetapi terus
bertumbuh.
Sedangkan dasar iman yang paling suci itu adalah Yesus Kristus, bukan yang lain. Juga dikatakan, berdoalah dalam Roh Kudus. Maksudnya, bila kita berdoa dengan penuh kepercayaan kepada Yesus, kuasa Roh Kudus akan dinyatakan atas hidup kita. Bukan pula berdoa menuruti hawa nafsu, melainkan berdoa selaras dengan kehendak Tuhan. Orang yang hidup dalam dasar iman yang benar tidak akan diombang-ambingkan oleh angin pengajaran sehingga ia tidak menyimpang dari kebenaran. Sebaliknya, ia akan terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan menjadi semakin serupa dengan gambaran Anak-Nya. Kiranya kehidupan kita pun demikian, amin.
.jpg)
.jpg)

