DANIEL PANE

SELAMAT DATANG DAN MENIKMATI YANG TELAH DISAJIKAN

Rabu, 07 Oktober 2026

Bahan Khotbah Epistel Minggu XIX Setelah Trinitatis: Minggu, 11 Oktober 2026: Yudas 1: 17 - 23

 BAHAN KHOTBAH EPISTEL
MINGGU XIX SETELAH TRINITATIS
MINGGU, 11 OKTOBER 2026
YUDAS 1: 17 – 23

 ALLAH MENYUKAI KASIH SETIA

Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.
Pengantar

            Sebuah lirik lagu dikatakan: “menyenangkanMu, senangkanMu, hanya itu kerinduanku, menyenangkanMu, senangkan hatiMu hanyaitu kerinduanku” lirik tersebut mengandung arti bahwa sebagai umat percaya, kita ingin menyenangkan hati TUHAN. Akan tetapi bagaimana cara kita menyangkan hati TUHAN? Ibarat seorang anak yang ingin menyenangkan hati orangtuanya, bagaimana cara si anak menyenangkan hati orangtuanya? Tentu si anak terlebih dahulu mengetahui dan mengenal apa yang menjadi kesukaan dan kedambaan dari orangtuanya. Demikian halnya ketika kita ingin menyenangkan hati TUHAN, kita harus terlebih dahulu mengenal TUHAN dan hidup dalam kehendak-Nya. Melakukan perintah-Nya serta melakukan apa yang TUHAN inginkan dari kita. melalui para hamba-Nya, Allah telah memberitahkan apa yang TUHAN inginkan dari kita yaitu mengasihi Allah dan mengasihi semua orang dengan melakukan kebenaran dan keadilan kepada semua orang.

 

Penjelasan

            Surat Yudas merupakan surat yang dituliskan oleh rasul Yudas (bukan Yudas Iskhariot). Surat ini merupakan surat nasehat atau pastoral dari seorang rasul kepada umat Kristen yang mengalami tekanan dari kerjaan Romawi dan begitu juga munculnya para pengajar sesat yang meragukan ke-Allah-an dan ke-manusia-an Yesus Kristus. Ada orang-orang tertentu yang telah menyusup ke dalam jemaat dan menyalahgunakan kasih karunia Allah demi kesenangan sendiri (1:4). Dalam istilah theologi, ajaran mereka disebut “antinomianisme” (anti hukum). Kelompok antinomian memahami kebebasan Kristiani secara keliru, dan memakainya demi kenikmatan duniawi: uang, makanan, dan pelampiasan nafsu (1:12, 16, 19). Tidak di bawah tuntutan Taurat diidentikkan dengan izin untuk berbuat dosa semaunya.

Di tengah situasi seperti ini, sangat penting bagi penerima surat untuk berpegang teguh pada iman yang selama ini telah diberitakan lintas generasi dari Tuhan Yesus ke para rasul sampai orang-orang Kristen generasi ke-2 atau ke-3 (1:3). Apa yang sedang terjadi tidak seharusnya mengagetkan mereka. Sejak dahulu sudah ada para penyesat yang didorong oleh kepuasan hawa nafsu semata-mata (1:11). Selain itu, sesuai dengan yang sudah dinubuatkan, di akhir zaman memang akan tampil para penyesat dan pengejek kebenaran (1:17-18). Jemaat tidak usah kaget. Mereka hanya perlu menjaga kemurnian ajaran dan kekudusan. Ada orang-orang tertentu yang telah menyusup ke dalam jemaat dan menyalahgunakan kasih karunia Allah demi kesenangan sendiri (1:4). Dalam istilah theologi, ajaran mereka disebut “antinomianisme” (anti hukum). Kelompok antinomian memahami kebebasan Kristiani secara keliru, dan memakainya demi kenikmatan duniawi: uang, makanan, dan pelampiasan nafsu (1:12, 16, 19). Tidak di bawah tuntutan Taurat diidentikkan dengan izin untuk berbuat dosa semaunya.

Di tengah situasi seperti ini, sangat penting bagi penerima surat untuk berpegang teguh pada iman yang selama ini telah diberitakan lintas generasi dari Tuhan Yesus ke para rasul sampai orang-orang Kristen generasi ke-2 atau ke-3 (1:3). Apa yang sedang terjadi tidak seharusnya mengagetkan mereka. Sejak dahulu sudah ada para penyesat yang didorong oleh kepuasan hawa nafsu semata-mata (1:11). Selain itu, sesuai dengan yang sudah dinubuatkan, di akhir zaman memang akan tampil para penyesat dan pengejek kebenaran (1:17-18). Jemaat tidak usah kaget. Mereka hanya perlu menjaga kemurnian ajaran dan kekudusan. Walaupun demikian, Yudas tidak hanya berusaha menguatkan jemaat yang masih setia pada iman yang benar. Dia juga mendorong mereka untuk menunjukkan kasih kepada orang lain yang mungkin sudah tergiur dengan kesesatan yang ada. Orang-orang ini membutuhkan uluran tangan yang tulus. Yudas ingin mengajarkan bahwa kasih yang benar selalu mencari orang yang tidak benar.

apa yang harus kita lakukan terhadap mereka yang tersesat? Wujud kasih seperti apa yang kita patut tunjukkan? Yang pertama, berbelas-kasihan (eleaō, ayat 22, 23b). Kehidupan Kristiani sudah dipisahkan dari belas kasihan. Dalam salamnya, Yudas tidak lupa mengharapkan belas-kasihan untuk penerima surat (eleos, 1:2; LAI:TB “rahmat”). Pada waktu kedatangan Tuhan Yesus kelak, kita menantikan belas-kasihan-Nya (eleos, 1:21; LAI:TB “rahmat”). Hanya oleh belas-kasihan-Nya kita dapat menghadap Dia kelak dalam keyakinan dan keberanian. Sebagaimana Allah sudah berbelas-kasihan kepada kita yang dahulu tersesat dalam dosa, demikian pula kita sepatutnya memperlakukan orang lain demikian. Orang yang berbelas-kasihan (eleēmōn) akan menerima belas-kasihan (Mat. 5:7). Bagaimana kita menghakimi orang lain akan menentukan bagaimana kita nanti dihakimi. Penghakiman yang tidak berbelas-kasihan akan menimpa orang yang tidak berbelas-kasihan (Yak. 2:13).

Kedua, menyelamatkan (ayat 23a). Kita dapat menyelamatkan orang lain yang tersesat dengan cara merampas mereka dari api. Kata “merampas” (harpazō) bukan sekadar tindakan asal-asalan. Filipus dilarikan oleh Roh Kudus di Asdod (Kis. 8:39). Paulus pernah diambil secara paksa oleh pasukan Romawi tatkala terjadi kerusuhan yang membahayakan nyawanya (Kis. 23:10). Paulus juga pernah diangkat ke surga (2Kor. 12:2, 4). Pada waktu kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, orang-orang percaya yang masih hidup akan diangkat ke awan-awan (1Tes. 4:17). Semua kata kerja yang berhuruf miring di atas menggunakan kata kerja harpazō. Dengan kata lain, kata ini merujuk pada tindakan mengambil sesuatu dengan disertai kekuatan atau paksaan. Ada upaya yang lebih keras yang harus dilakukan. Jika tidak demikian, daya tarik kesesatan akan lebih kuat menjerumuskan mereka ke dalam penghukuman.

Wujud kasih yang terkahir adalah berbelas-kasihan tetapi disertai ketakutan (ayat 23b). Kita perlu menunjukkan belas-kasihan kepada semua orang. Namun, khusus untuk mereka yang memang sudah sedemikian terhisap dalam keberdosaan, kita juga harus menambahkan sesuatu yang lain pada belas-kasihan. Tidak cukup hanya berbelas-kasihan. Kita harus menyertainya dengan ketakutan. Ketakutan yang dimaksud ini adalah kewaspadaan agar mereka waspada tidak terjatuh kepada dosa atau ikut dalam ajaran para pengajar sesat.

 

Refleksi

Ketika kita melihat gunung, dari kejauhan gunung itu tampak berwarna biru. Tetapi, setelah dekat, ternyata keadaannya tidak demikian. Ada gerombolan pepohonan besar, ada permukaan tanah yang cokelat, dan sebagainya. Seperti penampakan gunung, tidak sedikit orang yang mengaku dirinya Kristen, hidupnya kelihatan rohani, tetapi sebenarnya ia tidak memiliki iman. Bisa jadi ia kelihatan baik, tetapi ternyata menipu sesamanya. Ada juga yang menduakan Tuhan dengan masih pergi ke dukun atau paranormal untuk meminta petunjuk. Yudas mengingatkan seharusnya kita membangun diri sendiri di atas dasar iman yang paling suci. Orang yang membangun rumah tidak hanya membuat fondasi, namun menyelesaikannya sampai rumah berdiri. Kita pun tidak tinggal dalam keadaan yang tetap sama seperti ketika baru bertobat, tetapi terus bertumbuh.

Sedangkan dasar iman yang paling suci itu adalah Yesus Kristus, bukan yang lain. Juga dikatakan, berdoalah dalam Roh Kudus. Maksudnya, bila kita berdoa dengan penuh kepercayaan kepada Yesus, kuasa Roh Kudus akan dinyatakan atas hidup kita. Bukan pula berdoa menuruti hawa nafsu, melainkan berdoa selaras dengan kehendak Tuhan. Orang yang hidup dalam dasar iman yang benar tidak akan diombang-ambingkan oleh angin pengajaran sehingga ia tidak menyimpang dari kebenaran. Sebaliknya, ia akan terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan menjadi semakin serupa dengan gambaran Anak-Nya. Kiranya kehidupan kita pun demikian, amin.



 

Senin, 05 Oktober 2026

Bahan Khotbah Minggu XIX Setelah Trinitatis: Mingg, 11 Oktober 2026: Hosea 6: 1 - 6

 BAHAN KHOTBAH 
MINGGU XIX SETELAH TRINITATIS
MINGGU, 11 OKTOBER 2026
HOSEA 6: 1 – 6

ALLAH MENYUKAI KASIH SETIA

Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.

Patujolo

            Di dunia ini manusia sering diperhadapkan dengan dua pilihan antara hal yang disukai dan hal yang tidak disukai. Sesuatu yang kita sukai merupakan sesuatu yang sesuai dengan harapan dan yang dapat mendatangkan kepuasan bagi kita; begitu juga sebaliknya sesuatu yang tidak sukai merupakan sesuatu yang tidak kita harapkan dan yang menyebabkan kekecewaan atau ketidak puasan bagi kita. Dari dua pilihan tersebut, tentu kita memilih hal lebih kita sukai dibandingkan dengan hal yang tidak kita sukai.

            Dalam teks khotbah evangelium ini, nabi Hosea menyatakan dalam pemberitaanNya mengenai hal – hal yang disukai oleh Allah untuk diwujudnyatakan oleh umat-Nya, Israel. Sebagai umat pilihan, umat Israel memiliki tugas dan kewajiban untuk mewujudnyatakan hal – hal apa yang TUHAN kehendaki dari mereka. Agar kita dapat lebih memahami pemberitaan ini, kita akan memasuki penjelasan nas.

 

Penjelasan Nas

            Hosea anak Beeri adalah
seorang nabi yang melakukan tugas kenabiannya di Israel Utara pada masa kerajaan Yerobeam bin Yoas atau yang lebih dikenal dengan Yerobeam II (sekitar 793–753 SM). Dari tahun tersebut kita dapat mengerti bahwa Hosea memiliki konteks yang sama dengan nabi Amos. Pada masa pemerintahan Yerombeam II, kerajaan Israel jatuh kepada penyembahan berhala seperti yang telah dilakukan ketika Yerobeam I memerintah Israel Utara. Selain penyembahan berhala, pada masa pemerintahan Yerobeam II terjadi banyak perbuatan kekejian, penindasan, ketidakadilan dan berbagai perbuata jahat lainnya. Orang miskin menjadi bahan injakan dan korban kepuasan birahi orang kaya, keadilan ditentukan dengan banyaknya uang, jabatan dan kenalan, budak tidak dipandang sebagai manusia memiliki hak hidup untuk merdeka melainkan dipandang sebagai tawanan yang mana hak hidupnya hanyalah untuk kepentingan tuannya.

            Hosea dalam tugas panggilannya sebagai nabi disuruh untuk menikah dengan seorang perempuan sundal (pelacur). Pernikahan ini sebagai gambaran bangsa Israel Utara yang tidak setia dalam melakukan ibadah kepada TUHAN, mereka melakukan “pelacuran” dengan melakukan penyembahan kepada berhala. Melalui keluarga Hosea ini, Allah menyatakan hal – hal yang akan Ia perbuat kepada bangsa Israel Utara, termasuk mengenai ibadah yang sering mereka lakukan. Ucapan mereka dalam ibadahnya adalah TUHAN, akan tetapi hati dan pikiran mereka jauh dari TUHAN.

            Dalam perikop ini, nabi Hosea memiliki kerinduan agar umat Israel bertobat dan makin mengenal Allah yang kasih setia-Nya tidak berubah kepada umat-Nya. Hosea menggambarkan Allah seperti fajar sebab Hosea hendak berbicara tentang kasih setia Tuhan. Tuhan tidak pernah ingkar janji; Janji-Nya pasti digenapi. Ia pasti akan datang dan menolong umat-Nya sama seperti fajar yang pasti datang membawa terang dan mengusir kegelapan. Hosea menggambarkan Allah seperti hujan yang mendahului datangnya musim semi. Air dari musim penghujan akan mengairi bumi sehingga bumi menumbuhkan benih tanaman yang kemudian siap dipanen. Hasil panen itu akan memenuhi lumbung-lumbung. Artinya, berkat dan kasih setia Allah akan terus tersedia dari musim ke musim. Sungguh indah jika kita menyadari kasih setia Tuhan, terlebih tatkala kita sedang merasa putus harapan atau musim kehidupan kita terasa kering kerontang. Menyadari Tuhan yang setia akan sungguh menjadi secercah cahaya yang menerangi jalan kita; bagaikan oase di tengah gurun kering, yang memberi kita kesegaran dan kekuatan untuk terus melangkah di dalam iman.

            Memang ada kalanya Allah mempersilahkan hal – hal yang menyakitkan atau bencana terjadi atas umat-Nya karena pemberontakan mereka. Terjadi kekacau balauan bahkan kehancuran dapat dipahami sebagai penghukuman Allah atas umatNya. Untuk itulah, melalui Hosea, Allah mengkehendaki agar umat Israel Utara segera mengenal dan menyesali semua perbuatan dosa dan jahat mereka. Mereka harus mengenal kebaikan serta kemurahan hati Allah. Tidak ada pertobatan yang sia – sia jika pertobatan itu dilakukan dengan sepenuhnya dan tidak main – main.

            Pertobatan berasal dari sepenuh hati akan merubah cara pandang kita terhadap pengenalan TUHAN, Allah kita. Tidak ada yang lebih indah dan lebih disukai dibandingkan kasih setia TUHAN. TUHAN telah menyatakan kasih setia-Nya kepada kita melalui pemulihan yang akan Ia perbuat; Ia sendiri akan menyembuhkan umat-Nya dari keterpurukan yang terjadi. Kasih setia TUHAN datang seperti fajar yang akan meleyapkan kegelapan malam. Pada ayat 4 TUHAN, Allah Israel memperhadapkan kasih setia umat itu dengan kasih setia-Nya. Kasih setia umat itu ibarat seperti embun yang hilang pagi – pagi benar. Kasih setia itu tidak menetap, memiliki batas waktu dan dapat hilang. Namun, kasih setia TUHAN adalah kekal, tetap.

            Setiap orang yang menerima dan mengalami kasih setia TUHAN, maka ia akan melanjutkan kasih setia TUHAN kepada orang lain. Manusia merespon kasih setia Allah dengan dua hal yaitu: beribadah dan berbuat kasih setia kepada orang lain. Ibadah tidak cukup menyatakan syukur telah beroleh kasih setia, namun harus berlanjut dengan berbuat kasih setia seperti: mengampuni, membantu orang lemah, menyatakan pembebasan dan kemerdekaan bagi orang yang tertindas, menyatakan keadilan yang merata dan adil, menyatakan tahun rahmat TUHAN telah datang.

            Pada ay. 6 dikatakan TUHAN lebih menyukai perbuatan kasih setia dari pada korban sembelihan. Ritus ibadah yang hanya dilaksanakan secara formalitas. Ibadah mereka hanya sebagai topeng menutup keberdosaan mereka dan hanya sebagai kegiatan formalitas tanpa mempunyai dampak baik bagi orang lain. Ibadah hanya dipahami sebagai usaha mereka untuk menutupi dosa mereka dan diartikan sebagai pemakluman atas segala dosa dan kejahatan yang mereka lakukan. TUHAN, Allah Israel mengkritik dan menegor ritus ibadah mereka. Ibadah itu tidaklah pemuas perasaan umat untuk mengenal TUHAN; tidak hanya sebagai perjumpaan mereka dengan TUHAN melainkan bagaimana berbuat kasih setia kepada semua orang sebagai respon umat telah bertemu dengan TUHAN.

 

Refleksi

            Perikop evangelium hari ini merupakan penekankan bahwa meskipun Israel telah memberontak dan seharusnya mendapat murka Allah, ada panggilan untuk bertobat, menyesali segala pemberontakannya dan kembali kepada TUHAN yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan, bukan sekadar mengakhiri penderitaan dengan kematian. Pesan utamanya adalah bahwa Tuhan lebih menginginkan kesetiaan dan pengetahuan akan Tuhan daripada korban sembelihan yang hanya bersifat lahiriah, yang berarti ketaatan dan hubungan yang tulus lebih penting daripada upacara keagamaan tanpa makna.

            Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa Ia "menginginkan kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan lebih menyukai pengenalan akan Allah daripada korban bakaran". Ini adalah penekanan pada hubungan personal yang tulus dengan Tuhan. "Pengenalan akan Allah" (terutama dalam konteks Perjanjian Baru, seperti yang Yesus kutip di Matius 9:13 dan 12:7) berarti memahami sifat-sifat-Nya, termasuk belas kasihan, dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Tindakan seperti kasih setia dan pengenalan akan TUHAN lebih berati daripada persembahan kurban yang dilakukan tanpa tulus.

Kamis, 06 Agustus 2026

bahan khotbah Epistel Minggu XI Setelah Trinitatis; Minggu, 16 Agustus 2026: Galatia 3: 26 - 29

 BAHAN KHOTBAH EPISTEL
MINGGU XI SETELAH TRINITATIS
MINGGU, 16 AGUSTUS 2026
GALATIA 3: 26 – 29

 

TAATI  HUKUM  DAN TEGAKKAN  KEADILAN
oleh: Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.

Pendahuluan

Merdeka!!! Sekali merdeka tetap merdeka! Sebagai bangsa yang merdeka haruslah menyatakan perbuatan dan tindakan sebagaimana yang diharapkan oleh Tuhan terhadap umat-Nya setelah kita telah dimerdekakan kita dari kuasa dosa dan maut di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Iblis tidak akan berhenti merayu dan membujuk kita agar kita melanggar aturan dan perintah Allah sehingga kita pun kembali menjadi dikuasai dan diperbudak olehnya di dalam dosa. Dosa akan mengarahkan kita kepada kebinasaan dan maut, rusaknya hubungan kita dengan sesama dan kepada TUHAN. Dosa akan menutup semua kasih dan pengampunan sehingga yang terjadi adalah perselisihan, dendam, penindasan, ketidakadilan dan hidup semena – mena kepada sesama manusia.

Sungguh besar kasih Allah kepada manusia dan dunia; IA tidak membiarkan manusia itu selalu dikuasai iblis dan kuasa dosa. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus di mana di dalam Yesus Kristus Allah menyatakan kasih, hukum dan keadilan-Nya. Manusia tidak akan mampu dengan semua keberadaannya dan keberadaan yang ada di dunia ini untuk membebaskan dia dari kuasa dosa dan melawan iblis. Oleh karena itu, di dalam dan oleh Yesus Kristus, mampu memerdekakan kita dari kuasa dosa dan kita mampu melawan iblis. Hanya di dalam dan oleh Yesus Kristus kita yang sebelumnya dikuasai oleh iblis untuk bebuat dosa, kini kita dipimpin oleh Yesus Kristus untuk berbuat semua firman dan kehendak-Nya. Di dalam dan oleh Yesus Kristuslah kita akan disebut anak – anak Allah, seperti yang diungkapkan oleh Paulus dalam nas khotbah ini.

 

Penjelasan Nas

                Kitab Galatia merupakan surat yang dituliskan oleh rasul Paulus sekitar tahun 53 – 56 M. ketika ia berada di kota Korintus dan surat ini ditujukan kepada jemaat yang di kota Galatia. Kota Galatia berada di Asia Kecil, yang sekarang dikenal sebagai Turki. Paulus mendengar bahwa ada pergumulan atau masalah yang dihadapi oleh jemat Kristen di kota itu yaitu munculnya kelompok pengajar sesat yang berasal dari kelompok Yahudi yang membenci Paulus. Kelompok tersebut menyebarkan berita mengenai kerasulan Paulus yang menyebabkan jemaat meragukan kerasulan Paulus. Pada awal suratnya ini, Paulus menyebutkan dirinya adalah benar – benar rasul Yesus Kristus walaupun ia tidak termasuk dari 12 murid yang dipilih oleh Yesus. Kerasulan Paulus tidak ia peroleh dari Yesus Kristus ketika IA masih di dunia ini; melainkan Paulus menerima kerasulan itu dari Yesus Kristus ketika Yesus Kristus telah naik ke Sorga dan turunnya Roh Kudus. Yesus Kristus sendiri yang menangkap dan menetapkan Paulus menjadi rasulnya, ketika ia akan berangkat ke Damsyik dalam rangka penindasan kepada orang Kristen. Kerasulan Paulus lebih banyak dilakukan di luar orang Yahudi, itu sebabnya nama yang sering dipakai adalah Paulus. Saulus merupakan nama Paulus yang ia pakai ketika ia masuk dalam komunitas Yahudi dan nama Paulus dipakai ketika ia berada di luar komunitas Yahudi. Dalam surat Galatia ini, Paulus mengajarkan dan menasehati jemaat Kristen yang ada di kota Galatia agar mereka berperilaku sebagaimana mereka telah dimerdekakan dari kuasa dosa melalui pembenaran yang diperbuat oleh Allah. Kita hanya dapat mengenal pembenaran dan anugerah Allah hanya oleh iman dan bukan oleh aturan – aturan manusia.

                Seperti yang telah diketahui bahwa dalam komunias Yahudi sangat banyak aturan atau hukum yang diperbuat yang menyebabkan mereka menjadi eksklusif atau tertutup bagi orang – orang di luar komunitasnya. Komunitas Yahudi menganggap bahwa hanya merekalah yang paling benar dan sangat layak diselamatkan karena mereka menaati aturan, hukum dan tatanan yang ada pada mereka; komunitas di luar Yahudi merupakan komunitas yang tidak layak beroleh keselamatan. Komunitas di luar Yahudi bisa saja beroleh keselamatan seperti yang dimiliki oleh Yahudi akan tetapi mereka harus turut taat kepada tradisi, aturan – peraturan serta hukum Yahudi tanpa itu keselamatan tidak akan terjadi pada mereka. Bagi kelompok Yahudi, walaupun orang – orang di luar Yahudi telah menjadi Kristen namun apabila mereka tidak mengikuti tradisi, aturan – peraturan dan hukum Yahudi mereka juga tidak beroleh keselamatan. Keselamatan yang dapat diperoleh hanya ketika mereka melalukan seluruh tradisi, aturan dan hukum yang berlaku dalam komunitas Yahudi.

                Pemahaman itu tentunya membuat keraguan bagi jemaat Kristen yang berasal dari luar komunitas Yahudi mengenai iman mereka. Apakah mereka akan beroleh keselamatan oleh karena iman mereka kepada Yesus? Atau apakah keselamatan itu diperoleh ketika mereka melakukan dan menaati tradisi, aturan – peraturan serta hukum yang berlaku dalam komunitas Yahudi. Oleh karena itulah Paulus melalui suratnya ini menyampaikan kepada jemaat Kristen yang ada di kota Galatia bahwa mereka juga adalah anak – anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus (ay. 1). Status anak Allah disematkan kepada jemaat Galatia yang menyatakan bangsa non Yahudi bukan karena kepatuhan dan keikutsertaan mereka melakukan tradisi, atau aturan dan hukum Yahudi tetapi karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah penggenapan dan pemenuhan Hukum Taurat (tӧrāh), hukum (mišpāṭ), dan keadilan (ṣedeq) sebagai penyataan kemuliaan TUHAN dengan tindakan-Nya.

                Status ke-anak-an Allah dinyatakan ketika kita dibaptis di dalam Kristus (ay. 2). Ayat 2 ini meningatkan kita mengenai ajaran Paulus kepada jemaat Kristen di kota Roma: “...tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Roma 6: 3 – 11).

                Hanya oleh dalam imanlah kita dapat mengenal bahwa hanya di dalam Yesus Kristuslah kita beroleh keselamatan. Kita telah dipersatukan dan dipersekutukan bukan karena dalam satu tradisi atau hukum tetapi karena kita hidup di dalam Yesus Kristus dan mengenakan Kristus. Keselamatan yang Yesus Kristus telah nyatakan tidak dapat dibatasi oleh satu suku, tradisi, aturan, hukum yang ada tetapi keselamatan yang Yesus Kristus telah nyatakan adalah kesempurnaan dari semua suku, tradisi, aturan atau hukum. Di dalamnya tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani, tidak ada lagi hamba atau orang merdeka, tidak ada lagi laki – laki atau perempuan karena kita semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (ay. 28). Allah yang kita sembah adalah Allah semua suku, semua bahasa, semua tradisi. Ungkapan ayat 28 ini sama dengan pengajaran Paulus ketika ia menuliskan suratnya kepada jemaat di kota Roma: “Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman. Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” (Roma 3: 29 – 31).

 

Refleksi Teologis

                Nas khotbah epistel ini mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan dari perbudakan dosa telah dinyatakan Allah secara sempurna di dalam dan oleh Yesus Kristus. Hanya di dalam dan oleh Yesus Kristuslah keselamatan dan kemerdekaan itu nyata dan terjadi. Kemerdekaan yang telah kita peroleh tidaklah dipergunakan untuk memperbuk atau mendiskreditkan sesama manusia yang memiliki perbedaan dengan kita seperti suku, bahasa, tradisi, agama dan perbedaan lainnya. Kemerdekaan yang telah Yesus Kristus perbuat di dalam dan oleh-Nya adalah kemerdekaan yang merajut persaudaraan yang rukun. Perbedaan adalah hal alamiah karena Allah sendiripun menciptakan segalanya berbeda namun semuanya baik.

                Imanlah yang mampu menguatkan dan mengajarkan kita mengenai keselamatan atau kemerdekaan yang telah Allah lakukan. Iman di dalam Yesus Kristus. Di dalam Yesus ada persaudaraan yang rukun, hidup berdampingan dan harmonis. Perbedaan bukan lagi sebagai pemecah atau menjadi masalah tetapi menjadi kekayaan. Hanya di dalam Yesus Kristuslah kita akan mampu menghormati, mengasihi bahkan berbuat yang terbaik untuk sesama kita walaupun di tengah perbedaan yang ada. Kita semua adalah anak Allah yang telah dipersekutukan di dalam baptisan di dalam nama Allah Bapa dan anak-Nya Tuhan Yesus Kristus dan Roh kudus. Kita adalah milik Yesus Kristus. Apabila kita telah menjadi miliki Yesus maka kita adalah keturunan Abraham yang behak menerima janji Allah. Itu berarti kita juga akan turut mewarisi janji Allah yang telah Allah nyatakan kepada Abraham. Amin.




BAHAN KHOTBAH EVANGELIUM MINGGU, 16 AGUSTUS 2026: YESAYA/ JESAYA 56: 1 - 8

 BAHAN KHOTBAH EVANGELIUM
MINGGU XI SETELAH TRINITATIS
MINGGU, 16 AGUSTUS 2026
YESAYA 56: 1 – 8

 

TAATI  HUKUM  DAN TEGAKKAN  KEADILAN
Oleh: Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th. 

Pendahuluan

Merdek
a!!! Sekali merdeka tetap merdeka! Itulah kalimat yang sering disebutkan oleh orang – orang Indonesia pada saat menjelang perayaan hari kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang merdeka. Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan: “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Dari kalimat tersebut dapat kita artikan bahwa setiap bangsa di dunia ini memiliki hak untuk merdeka dan tidak diperbolehkan penjajahan terjadi oleh satu bangsa terhadap bangsa lain karena kemerdekaan berhubungan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Itu berarti pemahaman tersebut dapat dipahami bahwa jika ada suatu bangsa yang menjajah bangsa lainnya, maka bangsa penjajah tersebut tidak adalah bangsa yang tidak berperikemanusiaan dan tidak berperikeadilan. Oleh karena itu, penjajahan di atas dunia haruslah dihapuskan.

            Pertanyaan, jika kemerdekaan terjadi pada suatu bangsa yang sebelumnya dijajah, apakah selanjutnya yang harus diperbuat? Apakah ia dapat menjajah bangsa lain? Atau ia harus ikut melawan penjajahan yang terjadi pada suatu bangsa, suku atau negara. Nas khotbah evangelium ini merupakan suatu seruan dari seorang nabi kepada bangsa Israel ketika mereka telah dimerdekakan oleh TUHAN, Allah Israel. Agar kita lebih mengerti apa yang ingin disampaikan oleh nabi ini, maka kita akan masuk pada penjelasan nas.

 

Penjelasan Nas

            Nas khotbah ini merupakan bagian dari trito Yesaya (Yesaya III) yang memberitakan mengenai perbuatan dan kehendak TUHAN, Allah Israel. Dengan perbuatan tangan TUHAN yang mahakuasa, bangsa Israel yang sebelumnya mengalami keterpurukan, penjajahan dan pembuangan oleh kerajaan Babel. Jika diperhatikan pemahaman divine war atau perang ilahi yang ada di tradisi pada saat itu, bagaimana mungkin TUHAN, Allah Israel mampu mengalahkan Marduk, allah Babel dan bagaimana mungkin Israel akan bisa pulih dan kembali menjadi suatu bangsa? Kekalahan suatu bangsa merupakan pernyataan allah / dewa yang disembah telah kalah melawan dewa bangsa yang menang. TUHAN, Allah Israel adalah Allah yang Mahakuasa, kekuasaan dan kerajaan-Nya tidak akan dapat disamakan atau tidak akan dapat dibatasi oleh tradisi atau pemahaman bangsa. Segala allah tunduk di hadapan TUHAN, Allah Israel.

            Dengan tangan-Nya yang kuat, Ia telah menghancurkan kerajaan Babel dan menghancurkan kuil dan dewa mereka. Melalui Koresy, TUHAN memerdekakan Israel dan mempersilahkan umat Israel untuk pulang kembali ke tanah air mereka yaitu Yerusalem. Kehancuran dan kesedihan yang dihadapi oleh bangsa Israel yang diakibatkan oleh penyerangan kerajaan Babel akan digantikan dengan pemulihan dan sorak – sorai. Kemerdekaan bangsa Israel tidaklah diperoleh dari keberadaan bangsa itu sebab jika diperhadapkan situasi yang terjadi saat itu merupakan situasi yang sangat sakit dan kehancuran total yang tidak memungkinkan mereka akan merdeka atau berdiri kembali menjadi satu bangsa. Namun, apa yang tidak mungkin bagi mereka adalah sesuatu yang sangat mungkin bagi TUHAN. Oleh karena anugerah TUHAN, Allah Israel sekitar tahun 539 – 539 sM., TUHAN mengutus Cyrus/ Koresy raja Persia yang menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk memerdekakan Israel dari penjajahan kerajaan Babel. Selama pemerintahan Persia, bangsa Israel tidaklah menjadi negara jajahan tetapi sebagai bangsa yang merdeka. Hal ini ditunjukkan dengan diperbolehkannya orang Israel pulang atau kembali dari tanah pembuangan mereka ke tanah air mereka yaitu Israel dan turut membangun kota Yerusalem dan bait Suci sebagai lambang suatu negara yang merdeka. Bait Suci merupakan suatu bangunan yang memiliki peran sentral untuk menunjukkan identitas suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat.

            Kemerdekaan yang Allah berikan kepada bangsa Israel bukanlah suatu kemerdekaan tanpa aturan, yang mengakibatkan Israel menjadi bangsa tanpa aturan dan tanpa tatanan yang jelas. Kemerdekaan mereka adalah perubahan status pemerintahan dan kepemilikan. Siapa y  ang memerintah, dialah yang memiliki aturan untuk ditaati oleh masyarakatnya. Jika demikian halnya itu berarti, ketika TUHAN menjadi Raja dan memerintah serta menjadi Pemilik Israel, maka TUHANlah yang menetapkan aturan yang harus ditaati oleh Israel sebagai bangsa dan milik-Nya. Oleh karena itu, pada ayat 1 TUHAN menyampaikan firman-Nya melalui nabi pasca pembuanan, Yesaya III agar bangsa Israel yang telah merdeka itu menaati hukum dan menegakkan keadilan.

            Yesaya 56 merupakan pembukaan dari bagian trito Yesaya dimana Allah menyatakan perbuatan dan kuasa-Nya yang adalah keselamatan dari pada-Nya dan keadilan-Nya akan dinyatakan. Taatilah hukum, hukum apakah yang dimaksud? Dalam komunitas Israel ada beberapa bagian yang menajadi aturan/ hukum yaitu: Hukum Taurat (10 titah); 613 mišpoṭ (merujuk kepada perintah TUHAN yang tercatat dalam kitab Taurat (pentateukh), yang menjadi kewajiban bagi umat Yahudi untuk dipatuhi; talmut (tafsiran dan penjelasan Hukum Taurat, serta ajaran rabinik yang membantu menerapkan hukum dalam kehidupan sehari-hari); halakha (panduan bagi seluruh aspek kehidupan, memastikan bahwa tindakan umat Yahudi selaras dengan kehendak Tuhan); dan lain – lain. Apabila kita melihat teks bahasa Ibrani ayat 1 ini adanya perintah yang bersifat imperatif (terus menerus harus dilakukan dan tidak dapat dilanggar) yaitu menaati hukum (mišpāṭ) dan menegakkan keadilan (tsedeq).

Mitspat merupakan hukum yang berisikan perintah TUHAN yang tercatat dalam kitab Taurat yang menjadi tatanan kehidupan Israel bagi komunitas masyarakat Israel maupun bagi orang – orang di luar Israel pasca mereka akan dimerdekakan TUHAN melalui Cyrus/ Koresy. Dalam mitspat ada yang bersifat perintah, tegoran serta hukuman. Tidak ada tawar menawar dalam melaksanakan mitspat karena mitspat memiliki dasar Hukum Taurat. Bagi orang Yahudi melanggar mitspat sama halnya melanggar Hukum Taurat. Perbuatan itu sama halnya dengan mendatangkan murka TUHAN bagi mereka. Hukum Taurat merupakan identitas bangsa Israel sebagai bangsa yang dikuduskan oleh TUHAN, yang berbeda dengan bangsa – bangsa di sekitar mereka. Oleh karena itu, sebagai bangsa pilihan, bangsa yang dikuduskan dan bangsa yang dimerdekakan oleh TUHAN, mereka harus tekun dan terus menerus menaati hukum. mišpāṭ akan berhubungan dengan keadilan (ṣedeq). Dimana dinyatakan mišpāṭ, dan ṣedeq di sanalah TUHAN dinyatakan.

            Penyataan hukum (mišpāṭ), dan keadilan (ṣedeq) merupakan penyataan kemuliaan TUHAN dengan tindakan-Nya menyelamatkan Israel. TUHAN akan menyelamatkan umatnya IA sendiri bertindak sebagai Hakim Agung untuk menghukum semua bangsa; IA sendiri menebus Israel dari semua dosa dan pelanggaran mereka melalui penghakiman TUHAN. Ketika TUHAN menyelamatkan Israel melalui penebusan dosa mereka, IA akan dimuliakan karena IA berkuasa menyelamatkan. Tidak ada kuasa seperti kuasa TUHAN, Allah Israel baik di langit maupun di bumi. Tindakan-Nya menyelamatkan Israel dengan penyataan mišpāṭ, dan ṣedeq menyiaratkan tindakan-Nya untuk memulihkan gunung TUHAN yang kudus, yaitu Sion. Sion ditegaskan merupakan suatu tempat perlindungan yang paling aman (Yes. 14: 32), namun dengan penyerangan yang dilakukan oleh Babel bukit Sion sebagai tempat orang Israel mendapat pengajaran mengenai hukum (mišpāṭ), dan keadilan (ṣedeq) telah hancur. Campur tangan YHWH bagaimana pun diartikan secara dua hal: pertama, keraguan mengenai penyataan YHWH, apakah penyataan TUHAN melalui hukum dan keadilan merupakan penyataan penghukuman atau keselamatan bagi umat-Nya atau bagi semua bangsa; kedua, YHWH menghakimi dan menyelamatkan umat-Nya dan seluruh bangsa pada saat yang  sama. Tindakan TUHAN dalam penghakiman, penebusan dan pembenaran-Nya merupakan akar mengenai kebenaran dan pembebasan kaum Israel. Pemulihan Sion juga menyiaratkan bahwa dosa yang awalnya dipahami sebagai alasan TUHAN memakai bangsa lain (Babel) sebagai penghakiman, kini kaum Israel telah ditebus dan diampuni dari murka, dan tidak ada tuntutan atau ejekan, cercaan atau bahkan ancaman yang berasal dari bangsa – bangsa yang menjadi musuh Israel/ umat TUHAN. TUHAN sendirilah yang akan bertindak mengumpulkan umat-Nya yang telah tercerai berai dan DIA-lah yang akan menjadi benteng pertahanan dan gunung batu bagi umat-Nya. Sehingga mereka akan merasa aman dan tidak takut lagi dengan ancaman dari musuh – musuhnya.

            Umat Israel harus benar – benar berdiri kokoh dalam menaati hukum dan keadilan, yang artinya berdiri kokoh dalam menyatakan kehendak TUHAN dan perbuatan-Nya. Tidak ada kejahatan terdapat di dalamnya, tidak ada lagi terjadi ketidakadilan seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya. Orang – orang di luar Israel akan melihat semua perbuatan TUHAN melalui Israel sehingga mereka akan ikut dan masuk dalam komunitas bangsa Israel (yang disebut dengan Israel proselit). Sebagai umat yang telah merdeka maka mereka harus bertindak untuk menyatakan kemerdekaan bagi bangsa lain. Membuka tali belenggu dan menyatakan pembebasan bagi bangsa yang masih tertindas. Alangkah bahagianya ketika umat Israel berdiri kokoh menaati hukum dan keadilan. Hidup rukun, hidup dalam kasih persaudaraan, hidup dalam perdamaian. Tidak ada lagi saling mengancam, persekusi, perselisihan di dalamnya.

 

Refleksi Teologis Teks

            Merdeka!!! Tanggal 17 Agustus 2026 yang akan datang, bangsa Indonesia akan merayakan 81 tahun kemerdekaan. Sejarah menyatakan kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari anugerah Allah. Apabila diperhadapkan dengan persediaan senjata bangsa Indonesia dengan bangsa yang menjajah tentu hal yang sulit jika bangsa Indonesia dapat merdeka pada saat itu. Indonesia merupakan hadiah yang begitu mahal diberikan TUHAN kepada bangsa ini. Sebagaimana TUHAN sangat membenci ketidakadilan dan penindasan maka dengan anugerah dan perbuatan TUHAN melalui usaha para pahlawan kemerdekaan maka kemerdekaan pun terjadi. Pertanyaan sekarang adalah, apa yang bisa kita perbuat untuk bangsa ini sebagai ungkapan syukur kita atas anugerah Allah tersebut dan sebagai wujud kebanggaan kita menjadi warga Indonesia?

            Kemerdekaan Indonesia haruslah dipahami sebagai kemerdekaan yang berasaskan kemanusiaan, keadilan dan kebenaran. Kemerdekaan yang tatanan masyarakatnya tertata, teratur dan tertib bukan tanpa aturan; kemerdekaan yang membebaskan bukan yang menindas atau menjajah kaum lemah; kemerdekaan yang melakukan keadilan bukan melakukan ketidakadilan untuk pemuasan kepentingan pribadi/ kelompok; kemerdekaan yang menciptakan hidup rukun dan persaudaraan bukan menciptakan kericuhan, perselisihan atau keributan; kemerdekaan yang saling menghormati bukan saling menyikut, mengancam, menindas dan perbuatan jahat lainnya.

            Melalui nas khotbah ini kita diarahkan untuk hidup sebagai mana umat Israel setelah mereka dimerdekakan dari penjajahan bangsa Babel. Mereka hidup dalam tatanan atau aturan yang berkemanusiaan, berkeadilan dan kebenaran. Kita sebagai umat Kristen di Indonesia ini kita terpanggil untuk hidup dalam ketaatan hukum (mišpāṭ), dan keadilan (ṣedeq) sebagai penyataan kemuliaan TUHAN dengan tindakan-Nya. Kita warga negara Indonesia mari berpegangan tangan, berjalan bersama untuk mencapai cita – cita luhur bangsa kita: bangsa Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. TUHAN memberkati kita, TUHAN memberkati Indonesia, amin.

Senin, 27 April 2026

Bahan Jamita Epistel Minggu Kantate, 03 Mei 2026; 2 Tesalonika/ 2 Tessalonik 3: 1 - 12

BAHAN JAMITA EPISTEL
MINGGU KANTATE
OLOPOLOP HKI 99 TAON
MINGGU, 03 MEI 2026
2 TESALONIK 3: 1 – 12
 
MARENDE DO AHU TU JAHOWA

Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.

Patujolo

            Parhorasan ma di hamu amanami dohot inanami, ruas dohot parhalado ni huria HKI di ganup inganana be! Asi ni  roha dohot dame na sumurung sian saluhut na roha, ima na mangaramoti roha dohot ateatemuna di bagasan Jesus Kristus, Tuhan jala Sipalua, amen.

            Adong do hata na mandok: ndang adong hata na umuli begeon asing ni tangiang. Molo tajaha bibelta di Padan na robi dohto di padan na imbaru sai disuru do hita asa martangiang. Tung margogo situtu do tangiang ni angka na daulat, jala dapotan gogo do ibana marhitehite tangiangna songon i nang angka jolma na diondihon di tangiangna. Di hurianta adong do bagian ni liturgi tangiang pangondianon (ndada tangiang tingting). Tangiang pangondianon ima tangiang na mangondihon saluhut angka na porsea, mangondihon angka jolma asa margogo jala manahan di saluhut parsorion na masa, mangapuli angka na marsak jala mampargogoihon angka na gale. Alani i, sai didok do asa manongtong ma hita martangiang. Turpuk jamita epistel on, ima surat ni apostel Paulus na paduahon tu huria na di huta Tessalonik asa tongtong nasida martangiang huhut managam ari las ni roha, ari parolopolopon di na ro Jesus Kristus muse di ari parpudi. Molo tung jumpang ari i, marendeende ma hita mangolophon Jahowa di habangsaNa na badia. Asa lam ampit hita mangantusi turpuk jamita on na marpadomuan tu ojahan minggu, masuk ma hita tu hatorangan ni turpuk.

 

Hatorangan ni Turpuk

            Ia buku 2 Tesalonik ima surat na paduahon na sinurathon ni apostel Paulus tu huria Tessalonik. Huria Tessalonik, maringanan di huta Tessalonik, huta na ribur jala na balga. Huta Tessalonik ima na gabe ibukota haulion propinsi Junani (sebelumnya dikenal dengan kerajaan Makedonia) di harajaon Rom. Huta Tessalonik maringanan di tungkan utara ujung ni teluk Thermaikos, Junani. Si Paulus do na manurathon suratna on hirahira taon 48 – 51 M. Didapot si Paulus do barita taringot na masa di huria Tessalonik ima na adong parpoda haliluon na mangajarhon taringot haroro ni Tuhan (parousia) naung masa (ida 2 Tes. 2: 2), na mambahen ruas ni huria i didiaon (bingung) taringot hasisintong ni pangjarion i. Adong ma nasida paradehon dirina holan na dibagasna be holang na martangiang so mangula ulaonna be. Adong muse ma parange ni jolma i tidak mau tahu taringot haroro ni Tuhan, ndang taboto boha sintongna haroroNa i na ringkot ulaohon ma ulaon na holan manghorhon las ni roha di pamatang (muncul paham hedonisme, hidup berfoya - foya), jala holan mangahut tu haringkot ni parbue ni daging (pat. Gal. 5: 19 – 21). Ala ni i do disooi manang dipodahonh si Paulus huria na di Tessalonik asa unang madabu tu angka ulaon na maralo tu barita na uli. Tutu do Jesus Kristus na naeng ro, alai ndang taboto jala ndang adong jolma na boi manontuhon sadihari tingki manang arina. Alani i, rade ma hita managam haroroNa i marhite martangiang huhut mangulahon ulaonna. Ndang boi tarsirang martangiang dohot mangula ulaon.

            Di ayat 1 ddidok asa martangiang ma huria i huhut manangianghon hami. Ise do hami na dison? Ima apostel Paulus, Silas, Timoteus dohot angka parbarita na uli na asing na manongtong mangaringgashon ulaon parbaritanaulion tu angka bangso nang pe mangadapi hamaolon dohot sitaonon sahat tu na dipenjara dohot ingkon marutang hosa. Sai ditangianghon huria na di Tessalonik ma angka parbaritanauli asa unang so hata ni Tuhan. Lam diorai jala ditulak laho marbaritanauli, alai lam marlojong do hata ni Tuhan i marsaringar. Marhite tangiang ni huria i mangondihon angka parbaritanauli asa malua nasida sian halak na jengkel jala na jahat; ai ndang saluhutna olo porsea di baritanauli i jala ndang olo porsea di Jesus Kristus na gabe Tuhan jala Sipalua (ay. 2).

            Soso asa “martangiang” ima sosososo si Paulus tu huria di Tessalonik asa manang aha pe na masa di adopannasida ingkon manongtong ma nasida martangiang. Marhite tangiang do nasida mangidohon bisuk dohot pangantusion na laho manimbangi angka ragam pangajarion na masa, manirang dia do pangajarion na ingkon peoponnasida jala pangajarion na ingkon ditulak. Marhite na martangiang, taparhatopot na so margogo jala ndang jumpang bisuk dohot parbinotoan laho mangadopi ragam na masa di hasiangan on; na so tau gogo dohot hadirion gabe sipangasahon dohot na gabe pangondianan, alai Debata Ama, Anak dohot Tondi parbadia ma na ingkon sipangasahon, ai tau haposan do Ibana jala tau pangondianan ni angka na daulat marroha. Ai haposan do Debata, ibana do na patoguhon rohanta jala na mangaramoti hita maralohon na jahat dohot ragam parpoda haliluon i (ay. 3).

            Mardongan pos ni roha do si Paulus mamodai manang manosoi huria di Tessalonik na diulahonnasida do angka i sudena (ay. 4). Molo pe masa angka parpoda haliluon, alai hot do ianggo haporseaonnasida. Pos ni roha on marharoroan sian panandaiaon na tangkas si Paulus tu huria Tessalonik songon i nang huria Tessalonik tu si Paulus na manghorhon parsaoran na mansai ronsu. Di ayat 5, dipapos si Paulus do huria Tessalonik na togutoguon ni Tuhani rohanasida tu holong ni roha ni Debata dohot tu habengeton ni Kristus i (pat. Pilp. 2: 5 – 10). Holong ni roha tu Debata martudutudu tu parsombaon dohot pamelehon diri na hibul tu Debata, marparange songon Kristus (imatatio Christus) martudututudu tu parange na marpangoloion, marhabengeton marhasatiaon, na sumeahon ha-Debata-onNa gabe rupa hatoban na patuduhon haserepon ni roha laos di bagasan hasereponNa do dipatimbo Debata Ama Ibana sian saluhut angka Goar. Asa nasa ulu ni tot marsomba tu Ibana, jala nasa dila marhatopothon Jesus ima Tuhan jala Sipalua (pat. Pilp. 2: 11).

            Di ayat 6 – 12 ima pangajarion ni apostel Paulus tu huria na di Tessalonik asa gabe huria na maradat na sida. Pandohan “maradat” di turpuk on ima marparange na denggan jala tau tiruan; manghasomalhon mangulahon angka haulion di parsaoran huria nang songon i parsaoran di humaliang. Adong roha na martamue, roha holong dohot mangharingkothon pangurupion di angka dongan, roha marpanarihon dohot burju di angka ulaon na denggan. Unang ma songon halak na so maradat ima parange na so boi tiruan, sibahen hasesega di punguan huria, na manghorhon hagunturon di parsaoran na humaliang, marroha losok na so ulaulaon. Molo pe managam hita di ari haroro ni Tuhan Jesus Kristus di ari parpudi unang ma gabe songon halak na so maradat. Alai molo lam masihol hita di haroroNa i, lam tahaburjuhon ma mangulahon angka na denggan. Unang marlosok ni roha, padot ma di angka ulaon, hobas di angka sihobasan jala sude na i ingkon diulahon songon parbue ni tangiang.

           

Refleksi Teologi

Parbue ni haporseaon do angka ulaon na denggan, jala ingkon saurdot do haporseaon, tangiang dohot parulaon. Ndang boi hita manutup diri taringot aha na masa di hasiangan on, jala unang gabe tarlalap hita mangharingkothon na di portibi on gabe tading di angka hinaringkot ni ngolu partondion. Ganup jolma naung porsea di Jesus Kristus tangiang dohot ulaon ima na dua hal na mansai diharingkothon. Ndang boi na porsea i holan mangula so pola martangiang, manang holan na martangiang so ulaulaon.

Marhitehite ojahan jamita epistel di pesta olopolop HKI na pa-99 taon on, diajari do hita asa marende hita mangendehon hagogoon dohot hasangapon ni Debata; mangendehon saluhut denggan basa dohot asi ni roha ni Jahowa Debata naung patar di bagasan Jesus Kristus dohot parsaoran ni Tondi Parbadia. Mangendehon ende na imbaru ndada dilapati holan marende mardongan musik, alai marende mangendehon ende na imbaru ima ulaon na manghalashon dohot mangolophon sude pambahenan ni Debata di ngolunta marhite burju na martangiang dohot burju mangula di angka ulaonna na denggan i. Alani i, sude parhalado dohot ruas ni huria HKI na marlasniroha sadari on, adong do hata na mandok: ora et labora na marlapatan martangiang jala mangula. Tangianghon ma na naeng siulahononmu, ulahon naung ditangianhonon, jala tangianghon ma muse naung niula. Martangiang dohot mangula ima na ingkon siulahonon ni angka na porsea huhut mangaramoti dirina asa unang madabu tu ragam pangunjunan dohot manjamothon dirina asa unang madabu tu mangoloi hisaphisap ni daging; manimbangi saluhut angka pangajarion asa unang madabu tu pangajarion ni parpoda haliluon. Ramotan ni Debata ma hita di pardalanan ni ngolu on asa molo jumpang ari haroroNa na sangap i, dapotononNa ma hita hita so hasurahan, amen.